Lean Manufacturing
SEJARAH PERKEMBANGAN LEAN PRODUCTION
James
Womack, Daniel Jones, dan Daniel Ross menciptakan istilah “Lean Production” dalam buku mereka di tahun 1990 The Machine that Change the World untuk
menggambarkan suatu paradigma yang dibangun oleh Toyota Production System
(Womack, 1996). Pada manufacturing
methods dimana tujuannya adalah untuk meminimasi sumber bahan yang terpakai
dalam sebuah produk yang mengalir melalui seluruh proses produksi. Terinspirasi
oleh konsep menghilangkan waste yang
dikembangkan oleh Henry Ford pada awal 1900an, Toyota menciptakan sebuah kultur
organisasi yang berfokus pada proses identifikasi dan penghilangan semua waste secara sistematik dari proses
produksi.
Dalam konteks Lean, waste dipandang sebagai segala aktivitas yang tidak
memberikan nilai tambah kepada produk ataupun jasa. Didalam banyak proses
industri, aktivitas yang bersifat non-value
added bisa mencakup lebih dari 90% dari total aktivitas sebagai akibat dari
waktu menunggu, sentuhan yang tidak perlu pada produk, overproduction,
gerakan-gerakan tidak perlu, serta penggunaan bahan baku, energi, dan faktor
lainnya yang tidak efisien. Keberhasilan Toyota mengimplementasikan advanced manufacturing methods ini telah
membuatnya berhasil mengungguli ratusan perusahaan lain di berbagai sektor.
Berdasarkan laporan ini, istilah “Lean” digunakan
untuk menggambarkan secara luas pengimplementasian dari advanced manufacturing methods.
Lean production secara
khas menggambarkan sebuah perubahan paradigma dari konvensional “batch and queue” menjadi sistem
produksi “one-piece flow” dan pull production. Perusahaan yang ingin
melakukannya perlu menggunakan advanced
manufacturing tools untuk menurunkan intensitas waktu, intensitas material,
dan intensitas biaya produksi yang digunakan. Saat perusahaan
mengimplementasikan beberapa atau semua metode Lean ini, secara konsisten akan dihasilkan hal-hal sebagai berikut
:
-
Pengurangan tingkat inventori (bahan baku, work in process, barang jadi) dan biaya
perawatan serta kemungkinan kerugian akibat kerusakan.
-
Penurunan penggunaan material (input produk, termasuk
kedalamnya energi, air, logam, bahan kimia, dll) dengan mengurangi kebutuhan
material dan membuat waste material
sekecil mungkin selama proses manufaktur.
-
Optimalisasi peralatan (peralatan yang digunakan untuk
produksi maupun peralatan pendukung)
-
Pengurangan kebutuhan akan fasilitas pabrik dengan
menurunkan kebutuhan ruang untuk produk hasil produksi.
-
Peningkatan kecepatan produksi (waktu yang dibutuhkan
untuk memproses produk dari bahan baku hingga pengirimannya ke konsumen) dengan
mengurangi tahapan proses, pergerakan, waktu menunggu, dan downtime.
-
Peningkatan fleksibilitas produksi dan memungkinkan
pengimplementasian pull production, sistem
berorientasi just in time dimana
memiliki kebutuhan inventori dan biaya yang rendah.
-
Pengurangan kompleksitas (produk dan proses yang rumit
meningkatkan kemungkinan variasi dan error)
dengan mengurangi jumlah part dan
jenis material dalam produk, dan dengan mengeliminasi tahapan proses yang tidak
perlu dan peralatan dengan fungsi yang tidak perlu.
KONSEP
DASAR LEAN
Gasperz
(2007) menyatakan bahwa Lean adalah
suatu upaya terus-menerus untuk menghilangkan pemborosan (waste) dan meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang dan/atau jasa) agar memberikan nilai
kepada pelangan (customer value).
Tujuan Lean adalah meningkatkan
terus-menerus customer value melalui
peningkatan terus-menerus rasio antara nilai tambah terhadap waste (the value-to-waste ratio). Pada tahun 2006, the value-to-waste ratio perusahaan Jepang sekitar 50%, perusahaan
Toyota Motor sekitar 57%, perusahaan-perusahaan terbaik di Amerika Utara
(Amerika Serikat dan Kanada) sekitar 30%, sedangkan the value-to-waste ratio perusahaan terbaik di Indonesia baru sekitar
10%. Suatu perusahaan dapat dianggap Lean
apabila the value-to-waste ratio
telah mencapai minimum 30%. Apabila perusahaan itu belum Lean, perusahaan tersebut dapat disebut Un-Lean Enterprise dan dikategorikan sebagai perusahaan
tradisional.
APICS dictionary (Blackstone, John & Cox, James,
2005) mendefinisikan Lean sebagai
suatu filosofi bisnis yang berlandaskan pada minimisasi penggunaan
sumber-sumber daya (termasuk waktu) dalam berbagai aktivitas perusahaan. Lean berfokus pada identifikasi dan
eliminasi aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah (non-added value activities) dalam desain, produksi (untuk bidang
manufaktur) atau operasi (untuk bidang jasa), dan supply chain management, yang berkaitan langsung dengan pelanggan.
Lean
dapat didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistemik dan sistematik untuk
mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan (waste) atau aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value-adding activities) melalui
peningkatan terus menerus secara radikal (radical
continous improvement) dengan cara mengalirkan produk (material, work-in-process, output) dan informasi menggunakan sistem
tarik (pull system) dari pelanggan
internal dan eksternal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan.
Lean
yang diterapkan pada keseluruhan perusahaan disebut sebagai Lean Enterprise. Lean yang diterapkan
pada manufaktur disebut Lean
Manufacturing, dan Lean yang
diterapkan dalam bidang jasa disebut sebagai Lean Service. Demikian pula apabila Lean diterapkan dalam fungsi design/development,
order entry, accounting, finance, engineering, sales/marketing, production,
administration, office, maka Lean itu
akan disebut sebagai Lean
Design/Development, Lean Order Entry, Lean Accounting, Lean Finance, Lean
Engineering, Lean Sales/Marketing, Lean Production, Lean Administration, Lean
Office. Lean yang diterapkan pada bank disebut Lean Banking, Lean dalam bidang retail
disebut sebagai Lean Retailing, Lean dalam
bidang pemerintahan disebut sebagai Lean
Government, dan lain-lain.
Terdapat
lima prinsip dasar Lean :
- Mengidentifikasi nilai produk (barang dan/atau jasa) berdasarkan perspektif pelanggan, dimana pelanggan menginginkan produk (barang dan/atau jasa) berkualitas superior, dengan harga yang kompetitif dan penyerahan yang tepat waktu.
- Mengidentifikasi value stream process mapping (pemetaan proses pada value stream) untuk setiap produk (barang dan/atau jasa). (catatan: kebanyakan manajemen perusahaan industri di Indonesia hanya melakukan pemetaan proses bisnis atau proses kerja, bukan melakukan pemetaan proses produk. Hal ini berbeda dengan pendekatan Lean).
- Menghilangkan pemborosan yang tidak bernilai tambah dari semua aktivitas sepanjang proses value stream itu.
- Mengorganisasi agar material, informasi, dan produk itu mengalir secara lancar dan efisien sepanjang proses value stream menggunakan sistem tarik (pull system).
- Terus-menerus mencari berbagai teknik dan alat peningkatan (improvement tools and techniques) untuk mencapai keunggulan dan peningkatan terus-menerus.
Beberapa
prinsip Lean Manufacturing dan Lean service (Gasperz, 2007) ditunjukkan
pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Prinsip-prinsip Lean Manufacturing dan Lean
Service
|
No.
|
Manufacturing
(Produk : Barang)
|
Non-Manufacturing
(Produk : Jasa)
|
|
1
|
Spesifikasi
secara tepat nilai produk yang diinginkan pelanggan
|
Spesifikasi
secara tepat nilai produk yang diinginkan pelanggan
|
|
2
|
Identifikasi
value stream untuk setiap produk
|
Identifikasi
value stream untuk setiap jasa
|
|
3
|
Eliminasi
semua pemborosan yang terdapat dalam aliran proses setiap produk agar Nilai mengalir tanpa hambatan
|
Eliminasi
semua pemborosan yang terdapat dalam aliran proses jasa (Moments of Truth) agar Nilai
mengalir tanpa hambatan
|
|
4
|
Menetapkan
sistem tarik (Pull System)
menggunakan Kanban yang memungkinkan pelanggan menarik nilai dari produsen
|
Menetapkan
sistem anti-kesalahan (mistake-proof
system) setiap proses jasa (Moments
of Truth) untuk menghindari pemborosan dan penundaan
|
|
5
|
Mengejar
keunggulan untuk mencapai kesempurnaan (zero
waste) melalui peningkatan terus menerus secara radikal (radical continous improvement)
|
Mengejar
keunggulan untuk mencapai kesempurnaan (zero
waste) melalui peningkatan terus-menerus secara radikal (radical continous improvement)
|
Waste dapat
didefinisikan sebagai segala aktivitas kerja yang tidak memberikan nilai tambah
dalam proses transformasi input menjadi
output sepanjang value stream. Berdasarkan perspektif Lean, semua jenis pemborosan yang terdapat sepanjang proses value stream, yang mentransformasikan input menjadi output, harus dihilangkan guna meningkatkan nilai produk (produk
dan/atau jasa) dan selanjutnya meningkatkan customer
value.
APICS Dictionary (Blackstone, John & Cox, James, 2005) mendefinisikan value stream sebagai proses-proses untuk
membuat, memproduksi, dan menyerahkan produk (barang dan/atau jasa) ke pasar.
Untuk proses pembuatan barang (good),
value stream mencakup pemasok bahan
baku, manufaktur dan perakitan barang serta pendistribusian kepada pengguna
barang itu. Untuk proses jasa (service),
value stream terdiri atas pemasok,
personel pendukung dan teknologi, “produser” jasa, dan saluran-saluran
distribusi jasa tersebut.
Komentar
Posting Komentar