Servqual
2.1
METODE SERVICE
QUALITY (SERVQUAL)
Salah satu pendekatan
pengukuran kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan dalam riset pemasaran
yang dikembangkan oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1990). Pengukuran
dengan metode SERVQUAL merupakan pendekatan user-based
approach (pendekatan berbasis pengguna), dikenal pula dengan istilah Gap Analysis Model dan kini sering digunakan
di industri-industri jasa.
2.1.1
Model Konseptual SERVQUAL
Model
konseptual SERVQUAL memiliki 5 Gap kualitas jasa yang berpotensi menjadi sumber
masalah kualitas jasa yang akan membantu pihak manajer dalam menganalisis
sumber masalah dan melakukan perbaikan kualitas jasa. Model konseptual SERVQUAL
dapat dilihat pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Model Konseptual SERVQUAL
Gap dalam metode SERVQUAL terdiri dari lima Gap, yaitu:
1. Gap 5: Kesenjangan antara persepsi pelanggan dengan
ekspektasi yang dimilikinya.
Jika persepsi dan ekspektasi
pelanggan mengenai kualitas pelayanan terbukti sama dan bahkan persepsi lebih
baik dari ekspektasi, maka perusahaan akan mendapat citra dan dampak positif.
Namun bila kualitas pelayanan yang diterima lebih rendah dari yang diharapkan,
maka kesenjangan ini akan menimbulkan permasalahan bagi perusahaan. Gap 5
merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam metode SERVQUAL ini dan
kemudian dilanjutkan dengan Gap 1, Gap 2, Gap 3, dan terakhir adalah Gap 4.
2.
Gap 1: Kesenjangan antara
persepsi dari pihak penyedia jasa dengan ekspektasi pelanggan
Gap ini menunjukkan perbedaan antara penilaian pelayanan
menurut pengguna pelanggan dengan persepsi manajemen mengenai ekspektasi pelanggan.
Penyebab terjadinya Gap ini adalah sebagai berikut:
a. Orientasi
riset pemasaran (marketing research orientation)
Manajemen melakukan dan menggunakan riset
pemasaran pada tingkat dimana penelitian berfokus pada masalah-masalah kualitas
layanan. Faktor ini juga melibatkan luasnya manajer berinteraksi atau bergaul
secara langsung dengan pelanggan.
b. Komunikasi ke atas (upward
communication)
Manajemen berinteraksi dengan customer
contact personnel dan mencari masukan dari mereka.
c. Jenjang manajemen (level of management)
Jumlah dari level atau tingkat supervisor
atau manajerial, yang memisahkan manajer senior dari customer personnel
(kontak pribadi).
3.
Gap 2: Gap antara persepsi dari
pihak penyedia jasa dengan spesifikasi kualitas pelayanan
Gap ini menunjukkan perbedaan antara persepsi manajemen mengenai ekspektasi pelanggan
dengan spesifikasi pelayanan. Penyebab timbulnya Gap ini antara lain adalah sebagai berikut:
a.
Komitmen manajemen pada kualitas
jasa (management commitment to service quality)
Dimana manajemen puncak mengalokasikan
sumber daya (dana atau uang dan manusia) untuk kualitas jasa atau mutu
pelayanan, memiliki inisiatif internal untuk memperbaiki kualitas, dan memberi
penghargaan pada karyawan yang menghasilkan pelayanan yang superior.
b.
Penetapan tujuan (goal
setting)
Adanya sebuah mekanisme formal untuk
membentuk kualitas dari tujuan-tujuan pelayanan.
c.
Standarisasi tugas (task
standardization)
Tugas pelayanan dalam perusahaan distandarisasikan
dan dirutinitaskan, jadi memudahkan dalam menentukan standar-standar. Efektifnya
penerjemahan dari persepsi manajerial pada standar kualitas jasa yang spesifik
tergantung pada tingkatan sampai dimana tugas yang akan dilakukan dapat
distandarisasi atau dibuat rutin.
d.
Persepsi terhadap kelayakan (perception
of feasibility)
Dimana manajer percaya bahwa ekspektasi pelanggan dapat dipenuhi secara
ekonomi.
4.
Gap 3: Gap antara spesifikasi
kualitas pelayanan dengan proses pemberian pelayanan
Gap ini menunjukkan perbedaan antara spesifikasi
kualitas pelayanan dengan penyampaian pelayanan yang diberikan oleh karyawan (contact personnel). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan Gap ini antara
lain :
a.
Ambiguitas peran, yaitu sejauh
mana pegawai dapat melakukan tugas sesuai dengan ekspektasi manajer tetapi
memuaskan pelanggan.
b.
Konflik peran, yaitu sejauh
mana pegawai meyakini bahwa mereka tidak memuaskan semua pihak.
c.
Kesesuaian pegawai dengan
tanggung jawabnya.
d. Sistem pengendalian dari atasan, yaitu
tidak memadainya sistem penilaian dan sistem imbalan.
e. Perceived
control, yaitu sejauh
mana pegawai merasakan kebebasan atau fleksibilitas untuk menentukan cara
pelayanan.
f.
Teamwork, yaitu sejauh mana pegawai dan manajemen
merumuskan tujuan bersama di dalam memuaskan pelanggan secara bersama-sama dan
terpadu.
5. Gap 4: Kesenjangan antara penyampaian
pelayanan dengan komunikasi eksternal (promosi) kepada pelanggan
Ekspektasi pelanggan mengenai
kualitas pelayanan dipengaruhi oleh pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh
perusahaan melalui komunikasi pemasaran. Terdapat dua hal penting yang menjadi
penyebab kesenjangan antara penyampaian jasa dengan komunikasi eksternal,
yaitu:
a.
Komunikasi horizontal (horizontal
communication)
Dimana komunikasi dua arah yang efektif
berada diantara penyedia jasa dan periklanan atau penjual jasa, juga kesamaan
prosedur-prosedur dalam perusahaan.
b.
Kecenderungan untuk menjanjikan
berlebihan (propensity to overpromise)
Terkadang perusahaan dalam menghadapi lawan atau pesaing berusaha untuk
melebih-lebihkan perusahannya dengan pesaingnya. Namun terkadang mereka tidak
memperhatikan realitas yang ada dalam perusahaannya sendiri, sehingga terjadi
obral janji yang terlalu muluk yang tidak sesuai dengan kenyataan yang dimiliki
oleh perusahaan. Ketika hal ini terjadi maka kesenjangan itu pun akan muncul.
2.1.2
Pengukuran SERVQUAL
Menurut Zeithaml,
et. al., (1990), menyatakan metode SERVQUAL terdapat di dalam artikel “Measuring Service Quality: A Re-examinition
and Extension” yang dipublikasikan di Journal
Marketing dapat dihitung berdasarkan rumus:
Menurut Cronin & Taylor (1992) dalam
Tjiptono dan Chandra (2005, h.158), mengajukan tiga alternatif perhitungan yaitu:
1. Nilai SERVQUAL Gap 5=
Nilai
Tingkat Kepentingan x (Nilai Persepsi – Nilai Ekspektasi) (2.1)
2. Skala penilaian untuk mengukur Gap 1
adalah sebagai berikut:
a.
Tentukan nilai rata-rata ekspektasi pelanggan
(perhitungan sama dengan rata-rata ekspektasi pelanggan pada Gap 5).
b.
Tentukan nilai rata-rata persepsi manajemen (perhitungan
sama dengan cara rata-rata persepsi pelanggan tetapi data yang diolah adalah
data persepsi manajemen).
c.
Pengurangan antara nilai rata-rata persepsi
manajemen dengan ekspektasi pelanggan. Hasil nilai selisih adalah nilai Gap 1
(semakin negatif nilai Gap 1 maka Gap semakin besar).
3. Skala penilaian untuk mengukur Gap 2, 3,
dan 4 adalah sebagai berikut:
a.
Nilai yang besar menunjukkan adanya Gap yang kecil
b.
Nilai yang kecil menunjukkan adanya Gap yang besar
Komentar
Posting Komentar